Ruang Hati

Seharusnya, jantung ini sudah tidak perlu bedegub, sudah terlalu lama, sudah sekian waktu semua cerita terkubur ribuan kejadian. Setiap kenangan, ditimpa oleh kenangan yang lain, tertimbun, terbenam dalam, seharusnya. Tapi tidak.

Aku tak pernah menginginkan rindu, aku tak pernah lagi mencoba membayangkan, atau menggambarkan anggunmu di angan-angan, aku takut bahagia dalam ruang yang salah, karena mengenangmu selalu saja menciptakan jejak sebentuk perih.

Aku memilih mundur selangkah, lalu menjauh. Memendam dalam segala rupa rasa, bertaruh dengan ruang dan waktu, untuk sesuatu yang jauh dari mimpi, apalagi membawanya dalam alam nyata. Berharap keajaiban, lalu, rupanya keajaiban bagi pecundang sepertiku ini mungkin membuatnya enggan menghampiri.

Perjalanan ini tak hanya untuk menyatukan hati dua anak manusia, ya aku tahu pasti. Ada banyak hal yang mesti padu padan seiringan. Sementara, aku lihat kau ragu, bukan salahmu, karena di persimpangan itu aku tak pernah sanggup meyakinkanmu, menjagamu. Sesalku atas semua yang terjadi, seharusnya bersamamu adalah jalanku, jika aku tak pernah bimbang. Jika aku tak pernah menyerah atas segala keadaan.

Melihatmu bahagia adalah bahagiaku, sungguh. Sampai pada masa-masa di mana aku mulai bisa belajar merelakan semua. Menata hidupku, menyusun lagi setiap bagian yang dulu pernah kubangun bersamamu.

Tibalah pada masa, secarik senyuman klasik mengusik. Membentangkan semua laluan yang dulu pernah terlewati, memupuk asa, membentuk senyuman dalam percakapan-percakapan menyenangkan, menenangkan, mengobati gelisah berkepanjangan yang pernah ada. Lara hati itu seperti mendapatkan penawarnya.

Ada banyak rasa berkecamuk, tapi juga banyak harap menjadi mengendap, mengisi ruang-ruang yang dulu jadi milikmu. Tapi, aku tak lagi sendiri seperti dulu, meski merelakanmu pergi bukanlah pilihan, bukan keinginan. Bukan perkara hal terbaik semata, untukmu, atau untukku. Lebih, lebih dari itu.

Jangan bertanya tentang cintaku, jangan berbisik tentang rasa rinduku, mendekatlah, kamu pasti tahu. Merelakanmu adalah hal tersulit, tapi memaksamu pada ketidakpastian hanya akan jadi dosa bagiku.

Semua salahku, jika sedari dulu aku berlari mengejarmu, memelukmu, memastikan setiap langkah adalah padamu. Seharusnya, semua perih ini tak akan pernah terjadi. Dulu ketika kau memilih jalanmu, bahagiamu juga jadi bahagiaku, tapi sekarang, mungkin tak akan. 

Semua sudah terjadi bukan. Bila nanti ruang hatimu itu terisi kembali, katakan padaku, agar aku belajar membahagiakan diri. Walau semua bentuk bahagia itu telah aku berikan pada sepanjang perjalanan kita.

Kota Jambi, 16 April 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pergi

Singgah