Ibu Rindu

Nak, berkurun waktu telah berlalu, berselimut bayang semu warna gelisah yang telah lama membuat ibu gundah. Menantimu adalah takdir, dari beribu asa yang senantiasa meyakinkan ibu, bahwa pada secarik rindu, esok akan terganti dengan senyummu ketika kita saling menatap. Nak, dalam setiap upaya ibu untuk semakin dekat denganmu, selalu ada segurat senyummu, biar tak terlihat jelas, tapi menjadikan ibu bertahan untuk terus mendekati batas, batas antara terus menanti atau berhenti sampai di sini.

Walau setiap do'a yang ibu sampaikan pada Yang Kuasa akan terus meneguhkan harap, berat rasanya ketika seisi semesta menyudutkan ibu, mengecilkan hati meredupkan mimpi, menjauhkan keyakinan pada janji Sang Pemberi.

Nak mendekatlah, datanglah ke pelukan ayah, ia yang akan menangis sebelum air matamu menetes, dan ia yang tak akan pernah bahagia sebelum terlebih dahulu kamu merasakannya. Nak, duduklah di dekat ibu, ibu akan bercerita tentang perjalanan panjang menjemputmu, tentang bagaimana do'a dan upaya adalah bekal agar kita bisa bersama-sama. Ia juga akan menjadi bekalmu kelak, ketika kamu belajar berjalan, ketika kamu belajar menapaki kehidupan. Nak, ayah dan ibu rindu.

Bukit Subur - Jum'at, 13 Maret 2020
Coret-coretan kecil, teruntuk istriku tercinta Sri Utami. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pergi

Singgah

Ruang Hati